Pola Pembinaan Tahanan dan Narapidana di Lapas atau Rutan

Pola pembinaan tahanan dan narapidana yang baik
Pola pembinaan tahanan dan narapidana di lapas atau Rutan

Selama saya bekerja menjadi Polsuspas (Polisi Khusus Pemasyarakatan) atau yang lebih dikenal sebagai Sipir, orang-orang yang lebih banyak saya ajak berinteraksi adalah sesama pegawai dan para tahanan dan narapidana. Dari interaksi tersebut, banyak pelajaran yang dapat saya petik, yaitu mereka yang berada di Lapas/Rutan ada yang benar-benar bersalah, ada juga yang masuk karena kesalahan yang tidak disengaja seperti lakalantas yang menyebabkan korbannya meninggal. 

Bekerja menjadi polsuspas mengajarkan saya untuk lebih berhati-hati dalam bertindak agar tidak seperti mereka. Waspada sebelum terjadi seperti mereka yang hidupnya serba dibatasi. 

Beberapa tahanan/narapidana yang sering mengungkapkan keluh kesahnya terhadap saya mengatakan tidak betah berada di penjara, semua serba dibatasi. Lantas saya bertanya, siapa yang menyuruh anda kemari?

Jawaban sama yang saya dapatkan dari tahanan/narapidana yang melakukan kesalahan yang disengaja dan yang tidak disengaja adalah kalimat "karena keadaan pak.."

Bagi tahanan/narapidana dengan kesalahan yang tidak sengaja wajar menjawab karena keadaan yang memaksanya untuk masuk ke dalam jeruji besi, yaitu pertanggung jawaban atas kelalaian misalnya lakalantas dan membuat korbannya meninggal. Mereka juga tidak mau untuk kembali lagi merasakan dinginnya jeruji besi dengan segala keterbatasan dalam menjalani masa-masa perenungan kesalahannya di Lapas/Rutan.

Namun bagaimana dengan tahanan/narapidana yang dengan sengaja membuat kesalahan yang menjawab karena keadaan?

Menurut saya ada masalah yang kompleks ikut andil dalam terbentuknya pemikiran para tahanan/narapidana tersebut, diantaranya:

1. Bagi mantan narapidana yang baru keluar dari Lapas/Rutan, tidak serta merta selalu dapat diterima ditengah masyarakat. Ketidak mampuan mantan narapidana dalam membangun image yang baik di tengah masyarakat dapat mempengaruhi psikologis mereka untuk berfikir "lebih baik kembali ke lembaga pemasyarakatan karena disana mereka diterima dengan mudah oleh sesama penyandang status narapidana" 

2. Bagi tahanan/narapidana yang enggan untuk belajar berkarya, membuat keterampilan sebagai bekal hidup saat keluar dari Lapas/ Rutan membuat ketidak mampuan mereka bersaing dalam mendapatkan pekerjaan di dunia luar agar mendapatkan penghasilan bahkan meningkatkan taraf hidupnya sehingga mereka akan berfikir lebih baik kembali ke lembaga pemasyarakatan karena disana tidak susah untuk bekerja sedangkan makan sudah ditanggung.

3. Adanya pemikiran bahwa masuknya mereka ke dalam Lapas/Rutan adalah sebagai kesalahan dalam metodenya mereka menjalankan aksinya, jadi ibarat barometer kemampuannya, kapan mereka berhasil menjalankan aksinya tanpa masuk ke dalam Lapas/Rutan, berarti mereka merasa sudah ekspert. 

4. Masalah yang terakhir ini perlu menjadi perhatian bagi petugas pemasyarakatan dan masih menjadi Pekerjaan Rumah Instansi kementerian Hukum dan HAM RI mengenai cara untuk mengubah pola pikir tahanan/Narapidana agar tidak mendapatkan plat "R" alias Residivis. 

Belum ada formula khusus bagi Kementerian Hukum dan HAM dan Ditjen Pemasyarakatan pada umumnya dan Lapas/Rutan khususnya untuk membina tahanan/narapidana agar benar-benar berubah ke arah yang lebih baik dan para tahanan/narapidana siap kembali kemasyarakat ketika habis menjalani masa pidananya. 

Saya pernah membaca artikel dari Ayah Edy Wiyono, beliau banyak menulis tentang ilmu parenting. Terlintas dipikiran saya apakah metode tersebut sejalan jika diterapkan di Lapas/Rutan?

Artikel yang membahas mengenai pendidikan terhadap monyet. Di Thailand sengaja didirikan sekolah monyet, monyet-monyet dididik agar siap untuk dipekerjakan. Berikut artikelnya: 


SEKOLAHNYA MONYET VS SEKOLAHNYA MANUSIA ?
Para orang tua dan guru yang berbahagia....
Sudah tahukah anda bahwa di Thailand ada sebuah Sekolah Akedemi yang didirikan dengan siswanya terdiri dari para monyet, ya...para monyet yang nantinya akan dipekerjakan di perkebunan-perkebunan besar di Thailand..?
Jadi ternyata Thailand si Negara penghasil perkebunan nomer satu didunia tersebut, pekerjanya sebagaian adalah para Monyet... ya para monyet yang dididik di sekolah akedemi monyet milik Khuru Samporn. Atau yang lebih terkenal sebagai Samporn Monkey Training College. yang didirikan pada tahun 1957 di District Kancha-nadit, Provinsi Surat Thani.
Ternyata tempat ini tidak hanya sebagai akademi pelatihan monyet saja, melainkan telah berkembang menjadi objek wisata yang banyak dikunjungi oleh Turis Asing Manca Negara, dan tak jarang dari mereka adalah para pendidik yang khusus berkunjung untuk melihat langsung dan mempelajari metode pendidikan disana... 
Para orang tua dan guru yang berbahagia.... Sungguh suatu kebesaran jiwa yang luar biasa dari para turis asing yang telah mau belajar dari sekolah ini...ya belajar dari Sekolah Monyet., karena banyak dari mereka yang datang ternyata berprofesi sebagai pendidik dinegaranya 
Ada apakah gerangan yang menarik dari sekolah ini, hingga berhasil mengundang para pendidik dari sekolah manusia untuk studi banding kesini...?
Para orang tua dan guru yang berbahagia mari kita simak apa saja keunikan yang dimilikinya....
1. Sekolah adalah tempat yang dibuat senyaman mungkin untuk para monyet.Khuru Samporn menjelaskan bahwa para monyet ini akan dapat menyerap ilmu pelajaran dengan baik, apa bila dia benar-benar merasa nyaman dan menganggap bahwa sekolah adalah tempat favoritnya Oleh karena itu bentuk sekolahnya dibuat sedemikian mirip dengan tempat habitat alami para monyet dulu berada.
2. Proses Penerimaan SiswaKhuru Samporn tidak pernah membeda-bedakan calon siswa, baik yang jinak, liar, setengah liar atau amat sangat liar. Semua calon siswa diterima dengan tangan terbuka tanpa perlu ada ujian saringan, asalkan usianya sudah mencukupi. Karena Usia yang kurang dari 2 tahun, mestinya monyet tersebut masih harus hidup dengan ibunya untuk mendapatkan kasih sayang sebagai anak-anak dan belum layak untuk dipaksa menjadi pekerja perkebunan. Kata Khuru Samporn, ....Bukan main...betapa arif dan bijaksananya beliau...
3. Mendidik dengan penuh kasih sayang...Khuru Samporn selalu menekankan tidak boleh digunakan kekerasan, pukulan dan hukuman kepada para monyet; melainkan melalui pendekatan dengan penuh kasih sayang sebagaimana layaknya orang tua pada anaknya. Khuru Samporn melakukan pendekatan mulai sejak monyet tersebut berprilaku sangat liar hingga saat lulus nanti prilakunya akan menjadi sangat jinak dan kooperatif dengan metode yang penuh kelembutan. Mulai dari memberi makan, mengajak main, membelai dan sebagainya.
4. Setiap monyet yang ingin bersekolah dapat masuk kapan saja sepanjang tahun asalkan usianya sudah mencukupi. Disana tidak mengenal dan tidak ada yang namanya tahun ajaran monyet.
5. Mendidik monyet berdasarkan kemampuan dan kecepatan belajar masing-masing; dimana ternyata masing-masing monyet memiliki kemampuan dan kecepatan belajar yang berbeda-beda. Tutur Khuru Samporn.
6. Setiap siswa di didik untuk berhasil menguasai keahlian-keahlian dasar, menengah dan tinggi. Tanpa ada satu siswapun yang gagal. Jadi saat mereka lulus masing-masing monyet memiliki keahlian yang lebih kurang sama, satu sama lainnya.
7. Khuru samporn juga bertanggung jawab untuk memperbaiki prilaku monyet termasuk ada kalanya ada monyet yang kecanduan rokok, dan gemar merokok akibat kebiasaan orang membuang puntung sembarangan dan dipungut oleh monyet tersebut. Dengan sabar Khuru Samporn melakukan terapi penyembuhan bagi sang monyet hingga ia benar-benar berhenti merokok. Khuru Samporn belum pernah mengeluarkan siswanya karena prilaku bermasalah ataupun dengan alasan ketidak mampuan belajar. Khuru Samporn merasa bertanggung jawab terhadap setiap muridnya meskipun dengan segala keterbatasan yang mereka miliki
Masih banyak lagi nilai-nilai luhur pendidikan yang diterapkan di akademi ini dalam proses belajar mengajar seperti belajar dengan melakukan (Leaning by experience), belajar dari yang mudah ke yang semakin sulit, guru adalah sahabat bagi siswa, Proses belajar harus menyenangkan, memperlakukan siswa sesuai kebutuhan dan kemampuannya masing-masing. 
Dan yang paling mengagumkan adalah bahwa Akademi ini tidak melakukan ujian akhir bagi kelulusan para siswanya juga tidak mengeluarkan ijasah atau gelar bagi para lulusannya. Melainkan meng-garansi setiap siswa lulusannya akan dapat melakukan pekerjaanya dengan sangat mahir sesuai tingkatan pendidikan yang diikutinya. 
Dan apa bila ternyata ada siswa yang dianggap tidak memuaskan, maka siswa tersebut berhak untuk mendapatkan pendidikan ulang tanpa dipungut biaya tambahan.
Para orang tua dan guru yang berbahagia......Namun ternyata hingga saat ini para pemilik monyet yang menyekolahkan monyetnya di Samporn Monkey Training College merasa sangat puas dan belum pernah ada komplain terhadap hasil kerja para monyet lulusan akademi ini. 
Para orang tua dan guru yang berbahagia....sungguh sekolah yang luar biasa bukan....? Coba bandingkan dengan Sekolah tempat anak kita saat ini bersekolah, Apakah lebih baik atau malah lebih buruk dari sekolah Monyet ini..?
Semakin hari sekolah ini semakin terkenal dan dipenuhi oleh para siswa dari berbagai pelosok daerah di Thailand karena keberhasilnya mencetak lulusan-lulusan unggul berkualitas bagi para pemilik perkebunan.
Sekolah ini juga telah dikunjungi oleh para praktisi pendidikan dan organisasi-organisasi pendidikan dunia, seperti UNESCO, UNICEF, ONEC dsb untuk dijadikan sebagai sumber pembelajaran moral dan wacana membuka wawasan untuk dapat membangun konsep pendidikan yang lebih baik bagi anak-anak manusia.
Para orang tua dan guru yang berbahagia.... 
jika anda penasaran dan kebetulan berkunjung ke Thailand mungkin anda bisa mampir sebentar ke Samporn Monkey Training College untuk dapat melihat langsung barang sejenak agar nantinya dapat berbagi cerita pada para guru ditempat anak-anak kita bersekolah atau pada siapapun yang peduli akan nasib pendidikan bangsa ini.
Dipetik dari buku AYAH EDY PUNYA CERITA 

Sumber

1. https://www.facebook.com/permalink.php?story_fbid=846344732103296&id=141694892568287

2. www.ayahkita.com


Dari kisah di atas saya berasumsi, binatang yang tidak mempunyai akal dan pikiran saja dapat di bentuk dengan metode pembinaan berlandaskan cinta kasih, apakah hal ini dapat diterapkan kepada tahanan/narapidana?


Pola Pembinaan Tahanan dan Narapidana di Lapas atau Rutan Pola Pembinaan Tahanan dan Narapidana di Lapas atau Rutan Reviewed by Dapur Uenak on April 05, 2019 Rating: 5

No comments:

Powered by Blogger.